Perbedaan Mendasar Sosialisme dan Fasisme
Sosialisme sebagai Kritik atas Kapitalisme Industri
Sosialisme modern lahir dari kondisi konkret revolusi industri abad ke-19, artinya jam kerja panjang, upah rendah, dan kesenjangan tajam antara pemilik pabrik dan buruh yang bekerja di dalamnya. Karl Marx dan Friedrich Engels merumuskan kritik paling berpengaruh terhadap kondisi ini lewat Manifesto Komunis, dipublikasikan tahun 1848.
"Sejarah semua masyarakat yang pernah ada adalah sejarah pertentangan kelas." — Karl Marx dan Friedrich Engels, The Communist Manifesto (1848)
Bagi Marx dan Engels, sejarah manusia pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas, antara pihak yang menguasai alat produksi dan pihak yang hanya punya tenaga kerjanya untuk dijual. Solusi yang mereka tawarkan adalah kepemilikan bersama atas alat produksi, sehingga kelas-kelas itu pada akhirnya lenyap. Sosialisme, secara sederhana, adalah nama untuk tahap transisi menuju masyarakat tanpa kelas itu, sementara komunisme adalah nama untuk tujuan akhirnya.
Penting dicatat, sosialisme sebagai gagasan jauh lebih tua dan lebih luas daripada Marxisme saja. Ada sosialisme utopis sebelumnya, ada gerakan koperasi, ada sosialisme Kristen. Tapi Marx dan Engels-lah yang memberi sosialisme kerangka analisis paling sistematis, dan itulah yang paling banyak memengaruhi gerakan politik abad ke-20 berikutnya.
tujuan di atas kertas tidak otomatis menentukan bagaimana ia diterapkan, dan sosialisme punya rentang penerapan yang sangat lebar. Di satu ujung, ada jalur revolusioner yang ditempuh Vladimir Lenin di Rusia pada 1917. Lenin berpendapat kelas pekerja tidak bisa menunggu kapitalisme runtuh dengan sendirinya, dan diperlukan partai revolusioner yang mengambil alih negara secara paksa untuk memulai transisi itu. Hasilnya adalah Uni Soviet, dengan kepemilikan negara atas hampir seluruh alat produksi dan sistem satu partai.
Di ujung lain, ada jalur reformis yang ditempuh gerakan sosial demokrat di Eropa Barat, terutama Skandinavia, sejak awal abad ke-20. Alih-alih mengambil alih seluruh ekonomi lewat revolusi, jalur ini mempertahankan pasar dan kepemilikan swasta, tapi menambahkan pajak progresif tinggi, layanan kesehatan universal, dan jaring pengaman sosial yang luas, dijalankan lewat pemilu demokratis biasa, bukan pengambilalihan paksa. Negara seperti Swedia dan Norwegia sering disebut contoh model ini, meski keduanya tetap ekonomi pasar, bukan ekonomi terencana penuh ala Soviet.
Fasisme Lahir dari Kekalahan dan Krisis
Fasisme punya akar sejarah yang sama sekali berbeda. Ia lahir di Italia setelah Perang Dunia I, dari kekecewaan nasionalis terhadap hasil perjanjian damai yang dianggap tidak adil bagi Italia meski negara itu berada di pihak pemenang, ditambah ketakutan kelas menengah terhadap gelombang pemogokan buruh dan ancaman revolusi sosialis yang tampak mendekat setelah Revolusi Rusia 1917. Benito Mussolini mendirikan gerakan Fasci di Combattimento pada 1919, dan lewat aksi paramiliter serta ancaman kudeta yang dikenal sebagai Pawai ke Roma, ia diangkat jadi perdana menteri pada 1922.
Sejarawan Roger Griffin, dalam karyanya The Nature of Fascism, mengusulkan definisi yang kini banyak dipakai kalangan akademis: fasisme adalah bentuk ultranasionalisme yang dibangun di atas mitos "kelahiran kembali bangsa" dari kehancuran dan kemerosotan. Mitos ini menjelaskan kenapa fasisme selalu menampilkan diri sebagai gerakan yang menyelamatkan bangsa dari keruntuhan, bukan sekadar partai politik biasa yang bersaing memperebutkan kursi. Adolf Hitler dan Partai Nazi di Jerman, yang naik satu dekade kemudian di tengah krisis ekonomi dan kekalahan Perang Dunia I, mengembangkan versi fasisme mereka sendiri dengan tambahan ideologi rasial yang jauh lebih ekstrem, meski berbagi struktur dasar yang sama.
Negara Totaliter
Begitu berkuasa, fasisme diterapkan lewat penghapusan sistem multipartai, kontrol negara atas media dan pendidikan, serta pembentukan organisasi korporatis yang menyatukan buruh dan pengusaha di bawah pengawasan negara, alih-alih membiarkan mereka berkonflik lewat serikat pekerja independen seperti yang justru diinginkan sosialisme.
"Segalanya di dalam negara, tidak ada yang di luar negara, tidak ada yang menentang negara." — Benito Mussolini, The Doctrine of Fascism (1932)
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Mussolini secara eksplisit menyebut dalam Doctrine of Fascism bahwa fasisme menolak sosialisme, justru karena sosialisme mempertahankan pertentangan kelas, sementara fasisme ingin melebur semua kelas ke dalam satu identitas nasional tunggal di bawah negara. Penerapan konkretnya termasuk pembubaran paksa partai dan serikat buruh sosialis serta komunis, sensor ketat, kultus terhadap sosok pemimpin tunggal, dan dalam kasus Nazi Jerman, kebijakan rasial yang berujung pada genosida terhadap jutaan orang Yahudi dan kelompok minoritas lain lewat Holocaust. Ini bukan efek samping tak terduga dari fasisme, melainkan konsekuensi langsung dari logika ultranasionalisme dan rasialisme yang jadi inti ideologinya.
Kenapa Keduanya Sering Tertukar, dan Kenapa Itu Keliru?
Kebingungan ini masuk akal sampai titik tertentu. Baik Uni Soviet di bawah Stalin maupun Italia di bawah Mussolini sama-sama negara satu partai dengan kontrol ketat atas media, ekonomi, dan kehidupan warganya, sehingga dari luar keduanya sama-sama terlihat "totaliter". Istilah itu sendiri, menariknya, awalnya dipopulerkan justru oleh Mussolini secara positif, sebelum dipakai para pengkritik keduanya secara bergantian.
Tapi tujuan akhirnya bertolak belakang. Sosialisme, dalam segala variannya, bercita-cita menghapus hierarki kelas dan bersifat universalis, seruan "kaum buruh sedunia, bersatulah" ditujukan pada semua bangsa tanpa memandang kebangsaan. Fasisme justru menegaskan hierarki, baik antarkelas di dalam bangsa yang dilebur di bawah negara, maupun antarbangsa dan ras yang dianggap tidak setara. Fasisme historis bukan varian sosialisme yang lebih otoriter, melainkan gerakan yang secara aktif memburu dan membunuh kaum sosialis serta komunis begitu berkuasa, di Italia, Jerman, maupun Spanyol di bawah Franco. Menyamakan keduanya karena sama-sama "otoriter" sama seperti menyamakan dua obat karena sama-sama pahit, tanpa memeriksa apakah keduanya menyembuhkan penyakit yang sama atau justru saling meniadakan.
Batas sengketa
Perbandingan di atas menyederhanakan sesuatu yang sebenarnya masih diperdebatkan sengit di kalangan sejarawan dan ilmuwan politik. Definisi Griffin sendiri, meski berpengaruh, bukan satu-satunya, dan sejumlah sejarawan lain lebih menekankan basis kelas menengah yang panik atau aliansi dengan kapital besar sebagai penjelasan fasisme, alih-alih mitos kelahiran kembali bangsa semata. Sosialisme juga punya rentang yang jauh lebih luas dari dua contoh yang dibahas di sini, termasuk sosialisme demokratik yang menolak baik model Soviet maupun kapitalisme murni.
Perlu diakui juga, garis antara sosialisme otoriter versi Soviet dan negara totaliter versi fasis kadang tampak tipis kalau yang diperiksa cuma tingkat kontrol negara atas kehidupan warganya, tanpa melihat tujuan ideologis di baliknya. Kritik ini sah, dan menunjukkan bahwa metode pemerintahan yang represif bisa muncul dari ideologi manapun, kiri atau kanan, kalau kekuasaan terlalu terpusat tanpa pengawasan. Yang membedakan sosialisme dan fasisme bukan seberapa besar negaranya, tapi untuk siapa dan menuju apa negara itu diarahkan.
Sosialisme dan fasisme bukan dua titik pada garis yang sama, Keduanya lahir dari pertanyaan berbeda. Sosialisme bertanya bagaimana menghapus ketimpangan kelas?. Fasisme bertanya bagaimana menyatukan bangsa lewat hierarki dan mitos kelahiran kembali?. Sejarah mencatat keduanya saling memusnahkan, bukan saling melengkapi. Menyamakan keduanya cuma karena sama-sama pernah menghasilkan negara yang represif adalah cara termudah untuk melewatkan alasan kenapa keduanya, sejak awal, tidak pernah benar-benar berdiri di sisi yang sama.
Daftar Referensi
- Marx, Karl, dan Friedrich Engels. The Communist Manifesto (terj. Samuel Moore), 1848.
- Lenin, Vladimir. The State and Revolution, 1917.
- Mussolini, Benito. The Doctrine of Fascism, 1932.
- Griffin, Roger. The Nature of Fascism. Pinter Publishers, 1991.
- "Fascism." Encyclopaedia Britannica.
- "Socialism." Encyclopaedia Britannica.

0 Comments: