Aristoteles memandang mereka dengan serius, sebagai perintis yang patut dihormati dalam usaha memahami alam (natural philosophy)., ia menyematkan gelar terhormat kepada mereka: phusiologos (ahli alam), sophos (yang bijak), philosophos (filsuf). Aktivitas intelektual mereka disebutnya sebagai bentuk sophia (kebijaksanaan), theôria (kontemplasi), dan phusiologia (kajian tentang alam). Dengan cara pandang semacam ini, Aristoteles menempatkan para pendahulunya bukan sebagai objek yang harus disingkirkan, melainkan sebagai mitra intelektual dalam tradisi filsafat alam yang ia lanjutkan dan kembangkan.
Cara pandang ini bukan tanpa dasar metodologis. Dalam Topics, Aristoteles menjelaskan bahwa penalaran yang baik harus bertumpu pada endoxa, pendapat-pendapat yang diakui secara luas, baik oleh kebanyakan orang maupun oleh para ahli terkemuka. Prinsip inilah yang menjelaskan mengapa teori-teori ilmuwan alam sebelumnya tidak bisa begitu saja diabaikan: setiap gagasan harus diterima apabila kuat, atau dikritik apabila keliru. Topics bahkan secara eksplisit menyebut bahwa bahan-bahan endoxa mencakup “hal-hal yang diyakini oleh semua orang, oleh kebanyakan orang, atau oleh para ahli (sophoi) dan di antara para ahli itu sendiri, oleh semua, sebagian besar, atau mereka yang paling terkenal dan bereputasi baik.”
Ketika teori-teori itu saling bertentangan, pertentangan tersebut justru menjadi titik awal penyelidikan, bukan alasan untuk mengabaikannya begitu saja. Aristoteles kerap menelaah argumen dari kedua sisi sebelum menentukan posisi yang lebih tepat, dan dalam proses itu ia sering menempatkan dirinya sebagai penengah intelektual, menyaring warisan pendapat yang saling berseberangan, lalu menyusunnya kembali secara lebih sistematis dan rasional.[1]
Lahirnya Gagasan tentang Ilmu Alam
Dalam Physics, Aristoteles menguraikan dan mempertahankan dasar-dasar ilmu alamnya sembari terus mengingat jasa para pendahulunya. Tiga buku pertama karya ini secara khusus memperlihatkan bagaimana ia memosisikan diri sebagai kelanjutan dari usaha mereka. Dasar-dasar ilmu alam, baginya, diperoleh melalui penerapan penalaran umum pra-ilmiah terhadap kebenaran-kebenaran yang sudah dikenali lewat pengalaman sehari-hari.
“Adalah konyol untuk mencoba membuktikan bahwa ada sesuatu seperti alam, karena jelas bahwa ada banyak hal semacam itu.”~Aristoteles, Physics II.1, 193a3
Yang ia maksud, dunia dipenuhi berbagai jenis benda yang dapat dikenali, dan setiap anggota dari jenis tersebut selama tidak ada hambatan secara teratur dan dengan sendirinya memulai maupun mengakhiri perubahan, baik pada dirinya sendiri maupun pada benda-benda di sekitarnya. Perubahan itu sendiri dapat digolongkan ke dalam berbagai jenis, dan setiap jenis benda mampu menghasilkan jenis perubahan tertentu; bahkan proses kemunculan dan kepunahan suatu benda pun berasal dari mekanisme yang sama.
Inilah yang oleh Aristoteles disebut “hal-hal yang ada secara alami” masing-masing memiliki kodrat (nature) sendiri, sementara “alam” dalam pengertian yang lebih luas adalah keseluruhan kodrat tersebut beserta interaksinya. Istilah phusis (alam) dalam penggunaannya selalu merujuk pada penerapan konkret pada individu-individu dari suatu jenis yang dapat dikenali berbeda dari entitas atau relasi abstrak dalam matematika maupun filsafat pertama. Karena itu tidak mengherankan bila upaya ilmiah pertama di Yunani justru berfokus pada “ilmu tentang alam”. Bagi Aristoteles, usaha teoretis yang serius ini bermula dari Thales of Miletus, sang pelopor ilmu alam.
Sejauh mana konsep ilmiah Aristoteles yang telah matang benar-benar berakar dari para ilmuwan awal ini? Dalam Metaphysics I.1, ia merujuk pada pembedaan yang dibuatnya sendiri dalam Nicomachean Ethics VI.2–7, dengan menegaskan bahwa “semua orang menganggap bahwa apa yang disebut ‘kebijaksanaan’ berkaitan dengan sebab-sebab pertama dan prinsip-prinsip” (981b25–29). Pertanyaan berikutnya, di Metaphysics I.2, adalah: prinsip dan sebab seperti apa? Jawabannya: yang benar-benar primer, yakni yang paling umum dan paling mendasar (982b7–10). Dengan demikian, para pencari kebijaksanaan awal itu, bagi Aristoteles, layak disebut ilmuwan, perintis yang merumuskan prinsip-prinsip dasar bagi ilmu tentang segala sesuatu, sekaligus berusaha menurunkan dari prinsip-prinsip itu penjelasan tentang fenomena kosmos secara demonstratif dan ilmiah.[2]
Prinsip-Prinsip Alam dalam Physics I
Pada awal Physics I, Aristoteles memosisikan dirinya—demi kepentingan penjelasan sebagai seorang calon ilmuwan alam yang tengah mencari prinsip-prinsip yang tepat bagi bidang kajiannya. Menariknya, makna istilah phusis (alam) itu sendiri belum dibahas di buku pertama ini; penjelasannya baru muncul kemudian, di Physics II.1.
Pembahasan dalam Physics I.4–6 merupakan upaya yang tajam sekaligus simpatik untuk merekonstruksi cara berpikir para pendahulu Aristoteles. Namun tetap ada nada merendahkan di dalamnya, sebab Aristoteles menyadari betul bahwa ia memiliki perangkat logis dan filosofis yang jauh lebih matang dibanding mereka dalam menghadapi persoalan-persoalan pelik tentang perubahan. Ia melihat bahwa teori-teori para pendahulunya, meski berbeda-beda, sesungguhnya memiliki analogi yang signifikan—atau, dalam bahasa masa kini, berbagi struktur dasar yang sama. Struktur bersama inilah yang dianggapnya paling bernilai, kemudian dirumuskan ulang dalam kerangka konsepnya sendiri sebagai kebenaran mendasar tentang prinsip-prinsip perubahan alam. Pada Physics I.7, kesimpulan ini diturunkan melalui logos: gabungan antara analisis logis mengenai perubahan secara umum dan tinjauan induktif atas berbagai jenis substrat yang dapat diamati dalam kasus-kasus konkret.[3]
Kesalahpahaman tentang Alam
Buku kedua Physics tidak kalah penting bagi pemahaman Aristoteles atas ilmu alam para pendahulunya—dan bagian II.8–9 bahkan lebih instruktif lagi. Alur pembahasannya jelas: pertama, menjelaskan mengapa alam termasuk dalam kategori sebab “demi sesuatu” (tujuan); kemudian membahas “yang niscaya”, karena banyak pemikir mereduksi penjelasan mereka hanya pada sebab ini, misalnya dengan menyatakan bahwa karena panas, dingin, dan hal-hal semacam itu memiliki sifat tertentu, maka peristiwa-peristiwa tertentu pasti terjadi.
Setelah menegaskan perlunya penjelasan berdasarkan sebab final, Aristoteles menunjukkan bahwa para ilmuwan alam sebelumnya melakukan kekeliruan mendasar: mereka bukan hanya gagal melihat kebutuhan ini, tetapi menurutnya bahkan secara implisit menolaknya, karena menjadikan “keniscayaan” sebagai satu-satunya bentuk penjelasan yang sah.
Dari titik inilah muncul definisi penting: “kodrat” (nature) suatu benda adalah prinsip perubahan dan keadaan diam pada benda itu sendiri. Pertanyaan berikutnya pun tak terhindarkan, apakah kodrat itu terletak pada materi ataukah pada bentuknya? Meski empat sebab (four causes) belum diperkenalkan secara resmi pada tahap ini, Aristoteles menganggap dikotomi materi-bentuk sudah cukup jelas dengan sendirinya, sebagaimana sebelumnya ia menganggap konsep “alam” itu sendiri sudah gamblang bagi siapa pun yang mengamati dunia.
Konsekuensinya besar: jika, sebagaimana ditegaskan dalam Physics II.1, setiap perubahan alami harus selalu dijelaskan dengan merujuk pada kodrat benda itu sendiri, maka perubahan tersebut tidak boleh direduksi semata-mata menjadi soal “keniscayaan” apalagi bila keniscayaan itu dipahami sebagai sesuatu yang dipaksakan dari luar, bukan tumbuh dari kodrat internal benda tersebut.[4]
Konklusi
Tinjauan dalam Metaphysics I pada dasarnya sejalan dengan penilaian yang dibangun Aristoteles sepanjang Physics I–III: para ilmuwan alam awal, meski memulai dengan baik, gagal memahami sepenuhnya implikasi dari usaha mereka sendiri. Kegagalan ini berakar pada ketidakmampuan mereka memahami prasyarat mendasar dari konsep ilmu dan alam itu sendiri. Karena itu, kesalahan dalam teori positif mereka tampak jelas dalam Physics, sementara dalam Metaphysics I tersingkap sisi negatifnya: pendekatan yang belum matang terhadap sebab penggerak (efficient cause), tanpa penggunaan yang sistematis, serta nyaris tidak adanya pemahaman tentang sebab formal dan sebab final beserta peran sentralnya dalam tatanan alam.
Kritik Aristoteles yang tajam terhadap para pendahulunya memang sering memberi kesan seolah ia meremehkan mereka. Namun kesan ini perlu diluruskan lewat dua hal. Pertama, secara negatif: Aristoteles memang jarang mengakui secara eksplisit utang intelektualnya kepada tokoh tertentu—sebuah kebiasaan yang sebetulnya lazim dalam tradisi ilmiah Ionia awal. Ketiadaan pengakuan eksplisit ini bukan berarti ia menolak atau menyembunyikan pengaruh mereka; sebaliknya, ia memandang dirinya sebagai pewaris yang beruntung atas warisan pemikiran sebelumnya. Kedua, secara positif: tujuan utama Aristoteles ketika membahas para pendahulunya bukanlah menghakimi sejarah, melainkan menetapkan apa yang ia yakini sebagai kebenaran, sehingga kritiknya berfungsi lebih sebagai klarifikasi filosofis ketimbang penilaian historis semata.
Dorongan utama di balik seluruh pencarian ini, tulis Aristoteles di awal Metaphysics, adalah “hasrat alami untuk mengetahui”. Hasrat ini dapat terpenuhi karena kebenaran pada dasarnya bisa diketahui; ia bahkan menegaskan bahwa “Tuhan tidak cemburu”, sehingga pengetahuan tidak pernah benar-benar disembunyikan dari manusia. Ketika perhatian orang-orang yang memiliki cukup waktu luang diarahkan secara serius pada persoalan ilmiah, kemajuan pun akan terjadi, dan sering kali objek kajian itu sendiri yang membantu mengarahkan pencarian ke jalur yang benar.
Aristoteles juga menyadari bahwa urutan kronologis tidak selalu sejalan dengan urutan logis atau epistemologis. Ada pemikir yang “melampaui zamannya” dalam mengenali jenis sebab, substansi, atau metode tertentu, dan ada pula yang “tertinggal” karena tetap terpaku pada pendekatan lama. Sebagian kalangan Platonis, misalnya, dianggap mengajukan persoalan dengan cara yang kuno, sementara Anaxagoras justru dinilai memiliki pendekatan yang jauh lebih “modern” bukti bahwa usia sebuah gagasan tidak selalu sejalan dengan kematangannya.
Kepekaan dan ketajaman historis Aristoteles dalam membaca jejak pemikiran para pendahulunya sungguh mengagumkan. Namun tetap terbuka satu pertanyaan penting: seberapa akurat dan adil sebenarnya pemahamannya terhadap mereka? Sumber-sumber di luar Aristoteles membuka kemungkinan bahwa ia bisa saja salah memahami atau merepresentasikan para pendahulunya itu, entah disengaja maupun tidak. Namun menjawab pertanyaan ini memerlukan penelusuran tersendiri, yang melampaui cakupan pembahasan kali ini.
Catatan:
[1] Morian Zevanya [αngᴏ], OP — 22 Mei 2026, 00:09
[2] Morian Zevanya [αngᴏ], OP — 22 Mei 2026, 00:22
[3] Morian Zevanya [αngᴏ], OP — 22 Mei 2026, 00:38
[4] Morian Zevanya [αngᴏ], OP — 22 Mei 2026, 00:46
Catatn : Disarikan dan disunting dari uraian Edward Hussey, “Aristotle on Earlier Natural Science”, dalam The Oxford Handbook of Aristotle.
.png)
0 Comments: