Penderitaan hewan sering diangkat dalam perdebatan antara teis dan ateis. Argumen ini masuk dalam disiplin problem of evil, masalah kejahatan, dan dipakai untuk menyerang keyakinan bahwa Tuhan itu baik. Menurut saya, ini termasuk argumen yang paling lemah dalam disiplin tersebut.
Argumen ini biasanya memakai template dari Alex O'Connor, yang dikenal sebagai Cosmic Skeptic. Masalahnya, template itu justru berasal dari orang yang punya alasan berbeda untuk mengangkat isu ini. Alex O'Connor adalah seorang vegan.
Argumen Alex O'Connor
Alex menyadari bahwa penderitaan hewan yang disebabkan manusia jauh lebih banyak daripada yang terjadi di alam. Baginya, sulit memegang posisi peduli pada hewan sambil mengabaikan penderitaan yang manusia sendiri lakukan terhadap hewan. Untuk mengadvokasi isu ini secara konsisten, seseorang harus mengecam penderitaan hewan buatan manusia, bukan hanya yang terjadi di alam liar.
Alex O'Connor (Cosmic Skeptic)
x.com/cosmicskeptic/status/1216414482571972614
Why haven't I? I mean this sincerely: before I was vegan I couldn't bring myself to support anti-hunting campaigns, knowing I was responsible for more animal suffering than hunters. Someone would have said, 'Don't you eat factory farmed meat?' and I'd've been lost for words.
Alex sendiri belakangan dikabarkan mundur dari sikap vegannya. Namun keprihatinan yang ia ungkapkan tetap berlaku, dan tetap mempertanyakan konsistensi moral kita terhadap hewan.
Alex O'Connor's Anti-Vegan Turn: A Masterclass in Misguided Rhetoric
Examining the dangerous flaws behind his argument and why they matter.
Argumen Berbalik ke Pengajunya Sendiri
Di sinilah argumen problem of evil versi penderitaan hewan mulai runtuh dari dalam. Kalau seorang ateis menyebut penderitaan hewan yang banyak terjadi di alam itu jahat, bukankah ia juga harus mengakui bahwa penderitaan hewan yang terjadi di tangan manusia sama jahatnya?
Bukankah ia juga seharusnya tidak ikut berpartisipasi dalam penderitaan itu, dengan mengonsumsi daging hewan yang dihasilkan dari penyiksaan yang dilakukan manusia secara terbuka? Menolak satu bentuk penderitaan sambil menikmati hasil dari bentuk penderitaan yang lain, itu secara moral hipokrit.
Satu sisi memandang penderitaan hewan yang dilakukan manusia itu jahat. Sisi yang sama juga mengonsumsi daging yang dihasilkan dari kejahatan itu. How does that even make sense?
Jawaban Teodisi Islam
Islam punya jawaban tersendiri terkait masalah kejahatan secara umum, termasuk penderitaan hewan. Teodisi Islam tidak menafikan adanya kejahatan. Kejahatan itu ada, tapi bersifat parsial, karena diiringi hikmah atau kebijaksanaan Tuhan.
Kalau kita menemui hewan yang menderita karena tersambar petir, terbakar dalam kebakaran hutan, atau terjebak dalam lumpur sampai mati, semua itu punya hikmah di baliknya, meski hikmah itu tidak selalu terlihat oleh kita.
Seorang ateis mungkin akan bertanya, memangnya benar ada hikmah, bagaimana bisa membuktikannya. Pertanyaan itu wajar, tapi jawabannya tidak sesederhana menyangkal keberadaan hikmah itu sendiri. Kita tidak perlu bisa menjelaskan hikmah apa yang ada pada tiap penderitaan hewan untuk mengakui bahwa hikmah itu mungkin ada. Mengklaim bahwa sama sekali tidak ada hikmah atau nilai yang bisa diambil dari penderitaan hewan, justru itu sendiri adalah argumen dari ketidaktahuan.
Argumen dari ketidaktahuan (argument from ignorance): menyimpulkan sesuatu tidak benar hanya karena belum ada bukti atau penjelasan yang diketahui.
Contoh Hikmah di Balik Penderitaan
Coba lihat contoh sederhana. Seekor rusa tersambar petir di lapangan terbuka, lalu menderita, lalu mati. Apakah tidak ada nilai yang bisa diambil dari penderitaan itu? Tentu saja ada. Kematian rusa itu menyedihkan, tapi tetap membawa hikmah.
Rusa lain yang menyaksikan kejadian itu bisa menjadi lebih waspada, tidak berlarian di lapangan terbuka saat hujan dan petir. Dalam etika filosofis, hal semacam ini bisa dijustifikasi sebagai pelajaran. Kelompok rusa yang menyaksikan kejadian itu jadi tidak ceroboh sampai mengalami nasib yang sama.
Seorang ateis mungkin menolak penjelasan ini, menganggapnya tidak masuk akal. Tapi menolak sesuatu hanya karena terasa sulit dipercaya secara pribadi, itu juga punya nama dalam logika informal, yaitu argumen dari ketidakpercayaan pribadi.
Argument from incredulity: menyimpulkan sesuatu salah hanya karena terasa sulit dipercaya atau dibayangkan secara pribadi.
.png)
0 Comments: