Pertanyaanya bagaimana jika tubuh kitabisa di-update seperti software, artinya apakah kita masih mau menunggu rilisan alami dari evolusi?
Jika pertanyaan itu di tujukan pada Transhumanisme, maka ia akan menjawab: tidak usah menunggu! Oleh karnanya perbincangan ini sangat menarik untuk kita bahas.
Nick Bostrom, filsuf Oxford yang jadi rujukan utama gerakan ini, mendefinisikannya sebagai pendekatan interdisipliner untuk mengevaluasi peluang meningkatkan kondisi manusia lewat kemajuan teknologi. Tiga target utamanya jelas: 1) umur lebih panjang, 2) kesejahteraan lebih tinggi, 3) kecerdasan yang lepas dari batas biologis otak.
Ini bukan fiksi ilmiah, tapi ini proyek dengan riset..
Bukti Empirik
CRISPR sudah membuat penyuntingan gen jadi murah dan presisi. Riset umur panjang mencoba membalik penuaan di level sel, bukan sekadar mengobati gejalanya. Dan yang paling nyata: antarmuka otak-komputer.
Januari 2024, Noland Arbaugh jadi manusia pertama yang menerima implan Neuralink, dan dalam hitungan minggu ia sudah main catur pakai pikirannya saja. Sampai pertengahan 2026, puluhan pasien lain sudah menyusul di beberapa negara. mengerikan bukan? Proyek memang ini belum siap dijual secara massal, Tapi arahnya sudah tidak bisa disangkal.
Dua Filsuf yang Menolak gagasan Transhumanisme
Francis Fukuyama menyebut transhumanisme sebagai ide paling berbahaya di dunia. Argumennya soal kesetaraan. Hak yang setara bagi semua manusia berdiri di atas keyakinan bahwa kita punya esensi yang sama, melampaui perbedaan warna kulit, kecantikan, bahkan kecerdasan.Kalau sebagian orang bisa membeli peningkatan biologis dan sebagian tidak, esensi bersama itu pecah. Demokrasi kehilangan pijakannya.
Jürgen Habermas menyerang dari sudut lain. Ia menolak rekayasa genetik pada embrio, bahkan dengan niat baik sekalipun. Seseorang tidak bisa benar-benar menganggap hidupnya sebagai miliknya sendiri kalau ia hidup dengan tubuh yang sudah "ditingkatkan" orang lain tanpa pernah ditanya. Bukan soal hasilnya baik atau buruk. Soal siapa yang punya wewenang mengambil keputusan itu, sebelum si anak sempat bersuara.
Pembela transhumanisme punya balasan sederhana. Vaksin, kacamata, obat jantung, semua sudah lama dianggap wajar meski sama-sama mengubah kondisi biologis dari keadaan alaminya. Kalau intervensi kecil boleh, di titik mana batas itu berubah jadi terlarang? Sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab dengan tegas.
Bukan Posthumanisme, Sering ketukar, padahal beda akar. Transhumanisme masih percaya proyek lama humanisme: akal dan kemajuan membawa manusia ke kondisi lebih baik, cuma alatnya sekarang bioteknologi, bukan pendidikan. Posthumanisme lebih jauh lagi. Ia curiga pada gagasan "manusia" itu sendiri, dan menolak anggapan bahwa manusia lebih istimewa dari mesin atau makhluk lain di jaringan yang sama.
Pertanyaan sebenarnya bukan apakah teknologi ini bisa dibangun. Itu cuma soal waktu. Pertanyaannya, apakah kita cukup matang secara moral untuk memegangnya.
Stoa, ritual keagamaan, dan disiplin diri sudah ratusan tahun jadi cara manusia berdamai dengan kematian dan penderitaan. Metode itu tidak otomatis usang hanya karena ada sains baru yang lebih menjanjikan. artinya pandangan terakhir penulis adalah "Sains akan terus berlari ke depan dan Moral kita belum tentu ikut secepat itu".
Lebih lanjut kita bisa diskusikan ini di kolom komentar.. See You..
Referensi
- Bostrom, N. (2005). Transhumanist Values. Journal of Philosophical Research, 30 (Supplement), 3-14.
- Bostrom, N. (2003). Human Genetic Enhancements: A Transhumanist Perspective. Journal of Value Inquiry, 37(4), 493-506.
- Fukuyama, F. (2004). Transhumanism: The World's Most Dangerous Idea. Foreign Policy, No. 144.
- Fukuyama, F. (2002). Our Posthuman Future: Consequences of the Biotechnology Revolution. Farrar, Straus and Giroux.
- Habermas, J. (2003). The Future of Human Nature. Polity Press.
- Lafont, C. (2024). Revisiting the Liberal Case against Liberal Eugenics: Habermas on the Future of the Human Species and Biotechnology. Res Philosophica.
- Kass, L. (1998). The Wisdom of Repugnance, dalam The Ethics of Human Cloning. AEI Press.
- More, M., & Vita-More, N. (Eds.). (2013). The Transhumanist Reader. Wiley-Blackwell.
- Ross, B. D. (2019). Transhumanism: An Ontology of the World's Most Dangerous Idea (Disertasi). University of North Texas.

Jika bermain game saja bisa lewat fikiran, maka dimasa depan menyiksa koruptor dengan memvisualisasikan siksaan neraka secara langsung lewat fikirannya sendiri bukan sesuatu yg mustahil. 😂🤣🤣
ReplyDelete